TEKNIK PEMROGRAMAN PLC
A.
Unsur-Unsur Program
Program kendali PLC terdiri atas tiga unsur yaitu : alamat,
instruksi, dan operand.Alamat
adalah nomor yang menunjukkan lokasi, instruksi, atau data dalam daerah memori.
Instruksi harus disusun secara berurutan dan menempatkannya dalam alamat yang
tepat sehingga seluruh instruksi dilaksanakan mulai dari alamat terendah hingga
alamat tertinggi dalam program.
Instruksi
adalah perintah yang harus dilaksanakan PLC. PLC hanya dapat melaksanakan
instruksi yang ditulis menggunakan ejaan yang sesuai. Oleh karena itu, pembuat
program harus memperhatikan tata cara penulisan instruksi.Operand
adalah nilai berupa angka yang ditetapkan sebagai data yang digunakan untuk
suatu instruksi. Operand dapat dimasukkan sebagai konstanta yang menyatakan
nilai angka nyata atau merupakan alamat data dalam memori.
B.
Bahasa Pemrograma
Program PLC dapat dibuat dengan menggunakan beberapa cara yang disebut bahasa pemrograman. Bentuk program berbeda-beda sesuai dengan bahasa pemrograman yang digunakan. Bahasa pemrograman tersebut antara lain : diagram ladder, kode mneumonik, diagram blok fungsi, dan teks terstruktur. Beberapa merk PLC hanya mengembangkan program diagram ladder dan kode mneumonik.
Program PLC dapat dibuat dengan menggunakan beberapa cara yang disebut bahasa pemrograman. Bentuk program berbeda-beda sesuai dengan bahasa pemrograman yang digunakan. Bahasa pemrograman tersebut antara lain : diagram ladder, kode mneumonik, diagram blok fungsi, dan teks terstruktur. Beberapa merk PLC hanya mengembangkan program diagram ladder dan kode mneumonik.
1.
Diagram
Ladder
Digram ladder
terdiri atas sebuah garis vertikal di sebelah kiri yang disebut bus bar, dengan
garis bercabang ke kanan yang disebut rung. Sepanjang garis instruksi,
ditempatkan kontak-kontak yang mengendalikan/mengkondisikan instruksi lain di
sebelah kanan. Kombinasi logika kontak-kontak ini menentukan kapan dan
bagaimana instruksi di sebelah kanan dieksekusi.Ada dua kontak, yaitu kontak NO (Normally
Open) yang digambar tanpa garis diagonal dan kontak NC (Normally Closed) yang
digambar dengan garis diagonal. Angka di atas kontak menunjukkan bit operand.
2.
Kode
Mneumonik
Kode mneumonik memberikan
informasi yang sama persis seperti halnya diagram ladder. Sesungguhnya, program
yang disimpah di dalam memori PLC dalam bentuk mneumonik, bahkan meskipun
program dibuat dalam bentuk diagram ladder. Oleh karena itu, memahami kode
mneumonik itu sangat penting. Berikut ini contoh program mneumonik :
Alamat
|
Instruksi
|
Operand
|
00000
|
LD
|
HR
01
|
00001
|
AND
|
0.01
|
00002
|
OR
|
0.02
|
00003
|
LD
NOT
|
0.03
|
00004
|
OR
|
0.04
|
00005
|
AND
LD
|
|
00006
|
MOV(21)
|
|
0.00
|
||
DM
00
|
||
00007
|
CMP(20)
|
|
DM
00
|
||
HR
00
|
C.
Struktur Daerah Memor
Program pada dasarnya adalah pemrosesan data dengan berbagai instruksi pemrograman. Data disimpan dalam daerah memori PLC. Pemahaman daerah data, disamping pemahaman terhadap berbagai jenis instruksi merupakan hal yang sangat penting, karena dari segi inilah intisari pemahaman terhadap program. Data yang merupakan operand suatu instruksi dialokasikan sesuai dengan jenis datanya. Tabel di bawah ini ditunjukkan daerah memori PLC CPM2A sebagai berikut :
Program pada dasarnya adalah pemrosesan data dengan berbagai instruksi pemrograman. Data disimpan dalam daerah memori PLC. Pemahaman daerah data, disamping pemahaman terhadap berbagai jenis instruksi merupakan hal yang sangat penting, karena dari segi inilah intisari pemahaman terhadap program. Data yang merupakan operand suatu instruksi dialokasikan sesuai dengan jenis datanya. Tabel di bawah ini ditunjukkan daerah memori PLC CPM2A sebagai berikut :
Daerah Data
|
Channel/
Words
|
Bit
|
|
IR
|
Daerah input
|
IR 000 s.d IR 009
|
|
Daerah output
|
IR 010.00 s.d IR 019.15
|
||
Daerah ‘kerja’
|
IR 020 s.d IR 049
IR 200 s.d IR 227
|
IR 020.00 s.d IR 049.15
IR 200.00 s.d IR 227.15
|
|
SR
|
SR 228 s.d SR 255
|
SR 228.00 s.d SR 255.15
|
|
TR
|
---
|
TR 0 s.d TR 7
|
|
HR
|
HR 00 s.d HR 19
|
HR 00.00 s.d HR 19.15
|
|
AR
|
AR 00 s.d AR 23
|
AR 00.00 s.d AR 23.15
|
|
LR
|
LR 00 s.d LR 15
|
LR 00.00 s.d LR 15.15
|
|
TIM/ CNT
|
TC 000 s.d TC 255
|
||
D.
Instruksi Pemrograman
Terdapat banyak
instruksi untuk memprogram PLC, tetapi tidak semua instruksi dapat digunakan
pada semua model PLC. Instruksi
pemrograman dapat dikelompokkan sebagai berikut :
Klasifikasi
menurut pengkodean mneumonik :
> Instruksi
dasar
> Instruksi
khusus
Klasifikasi menurut kelompok fungsi
Klasifikasi menurut kelompok fungsi
> Instruksi
sisi kiri (ladder)
> Instruksi
sisi kanan
Klasifikasi menurut kelompok fungsi
Klasifikasi menurut kelompok fungsi
> Instruksi
ladder
> Instruksi
kendali bit
> Instruksi
timer/ counter
> Instruksi
geser bit
> Instruksi
sub routine
> Instruksi
ekspansi
Pada dasarnya, tingkat
pemahaman pemakai PLC ditentukan oleh seberapa banyak instruksi yang telah
dipahaminya. Oleh karena itu, untuk pemula berikut ini hanya dijelaskan
beberapa instruksi saja. Untuk pendalaman lebih lanjut dapat mempelajari manual pemrograman yang diterbitkan oleh
pemilik merk PLC.
1.
Instruksi Diagram Ladder
Instruksi
diagram ladder adalah instruksi sisi kiri yang mengkondisikan instruksi lain di
sisi kanan. Pada program diagram ladder instruksi ini disimbolkan dengan
kontak-kontak seperti pada rangkaian kendali elektromagnet.
Instruksi
diagram ladder terdiri atas enam instruksi ladder dan dua instruksi blok
logika. Instruksi blok logika adalah instruksi yang digunakan untuk
menghubungkan bagian yang lebih kompleks.
Instruksi LOAD dan LOAD NOT
Instruksi LOAD
dan LOAD NOT menentukan kondisi eksekusi awal, oleh karena itu, dalam diagram
ladder disambung ke bus bar sisi kiri. Tiap instruksi memerlukan satu baris
kode mneumonik. Kata “instruksi” mewakili sembarang instruksi lain yang dapat
saja instruksi sisi kanan yang akan dijelaskan kemudian. Kondisi eksekusi pada sisi kanan
akan ON jika kontaknya ON. Untuk instruksi LD yang kontaknya NO, kondisi
eksekusinya akan ON jika IR 0.00 ON; dan untuk instruksi LD NOT yang kontaknya
NC, akan ON jika IR 0.01 OFF.
Instruksi AND dan AND NOT
Jika dua atau
lebih kontak disambung seri pada garis yang sama, kontak pertama berkait dengan
instruksi LOAD atau LOAD NOT dan sisanya adalah instruksi AND atau AND NOT.
Contah di bawah ini menunjukkan tiga kontak yang masing-masing menunjukkan
instruksi LOAD, AND NOT, dan AND.
Instruksi OR dan OR NOT
Jika dua atau
lebih kontak terletak pada dua instruksi terpisah dan disambung paralel, kontak
pertama mewakili instruksi LOAD atau LOAD NOT dan sisanya mewakili instruksi OR
atau OR NOT. Contoh berikut menunjukkan tiga kontak yang masing-masing mewakili
instruksi LOAD, OR NOT, dan OR.Instruksi akan
mempunyai kondisi eksekusi ON jika salah satu di antara tiga kontak ON, yaitu
saat IR 0.00 ON, saat IR 0.01 OFF, atau saat IR 0.03 ON.
Kombinasi Instruksi AND dan
OR
Jika instruksi
AND dan OR dikombinasikan pada diagram yang lebih rumit, mereka dapat dipandang
secara individual di mana tiap instruksi menampilkan operasi logika pada
kondisi eksekusi dan status bit operand. Perhatikan contoh berikut ini hingga
yakin bahwa kode mneumonik meliputi alur logika yang sama dengan diagram
ladder. Di sini AND
terletak di antara statur IR 0.00 dan status IR 0.01 untuk menentukan kondisi
eksekusi dengan meng-OR-kan status IR 0.02. Hasil operasi ini menentukan
kondisi eksekusi dengan meng-AND-kan status IR 0.03 yang selanjutnya menentukan
kondisi eksekusi dengan meng-AND-kan kebalikan status IR 0.04.
2.
Instruksi OUT dan OUT NOT
Cara paling
sederhana untuk meng-OUTPUT-kan kombinasi kondisi eksekusi adalah dengan
meng-OUTPUT-kan langsung menggunakan instruksi OUTPUT dan OUTPUT NOT. Istruksi
ini digunakan untuk mengendalikan status bit operand sesuai dengan kondisi
eksekusi. Dengan instruksi OUTPUT, bit operand akan ON selama kondisi
eksekusinya ON dan akan OFF selama kondisi eksekusinya OFF. Dengan instruksi
OUTPUT NOT, bit operand akan ON selama kondisi eksekusinya OFF dan akan OFF
selama kondisi eksekusinya ON. Pada contoh di
atas, IR 10.00 akan ON jika IR 0.00 ON dan IR 10.01 akan OFF selama IR 0.01 ON.
Di sini IR 0.00 dan IR 0.01 merupakan bit input dan IR 10.00 dan IR 10.01
merupakan bit output yang ditetapkan untuk peralatan yang dikendalikan PLC.
3.
Instruksi END(01)
Instruksi
terakihir yang diperlukan untuk melengkapi suatu program adalah instruksi END.
Saat PLC menscan program, ia mengeksekusi semua instruksi hingga instruksi END
pertama sebelum kembali ke awal program dan memulai eksekusi lagi. Meskipun
instruksi END dapat ditempatkan sembarang titik dalam program, tetapi intruksi setelah
instruksi END pertama tidak akan diekseksekusi.
Nomor yang
mengikuti instruksi END dalam kode mneumonik adalah kode fungsinya, yang
digunakan saat memasukkan instruksi ke dalam PLC menggunakan konsol pemrogram.
Instruksi END
tidak memerlukan operand dan tidak boleh ada kontak ditempatkan pada garis
instruksi yang sama. Jika dalam program tidak ada instruksi END, program
tersebut tidak akan dieksekusi.
4.
Instruksi Blok Logika
Jika rangkaian
logika tidak dapat diwujudkan dengan instruksi AND, AND NOT, OR, atau OR NOT
saja, maka perlu menggunakan instruksi blok logika. Perbedaannya adalah bahwa
instruksi AND, AND NOT, OR, dan OR NOT mengkombinasikan antar kondisi eksekusi
dengan suatu bit operand, sedangkan instruksi blok logika yang terdiri dari
instruksi AND LOAD dan OR LOAD mengkombinasikan kondisi eksekusi dengan kondisi
eksekusi terakhir yang belum digunakan.
Instruksi blok
logika tidak diperlukan dalam program diagram ladder, tetapi diperlukan hanya
pada program mneumonik.
Instruksi AND LOAD
Instruksi AND
LOAD meng-AND-kan kondisi eksekusi yang dihasilkan oleh dua blok logika.
Instruksi OR LOAD
Instruksi OR LOAD
meng-OR-kan kondisi eksekusi yang dihasilkan oleh dua blok logika.
Diagram di bawah
ini memerlukan instruksi OR LOAD antara blok logika atas dan blok logika bawah.
Kondisi eksekusi akan dihasilkan untuk instruksi pada sisi kanan, baik saat IR
0.00 ON dan IR 0.01 OFF, atau saat IR 0.02 dan IR 0.03 keduanya ON.
a.
Mengkode Instruksi Sisi Kanan
Ganda
Jika terdapat
lebih dari satu instruksi sisi kanan dengan kondisi eksekusi yang sama, masing-masing
dikode secara berurutan mengikuti kondisi eksekusi terakhir pada garis
instruksi. Pada contoh di bawah ini, garis instruksi terakhir berisi satu
kontak lagi yang merupakan instruksi AND terhadap IR 0.03.
5.
Penggunaan Bit TR
Bit TR
(Temporarily Relay) digunakan untuk mempertahankan kondisi eksekusi pada garis
instruksi bercabang. Hal ini dipertahankan karena garis instruksi dieksekusi
menuju ke instruksi sisi kanan sebelum kembali ke titik cabang untuk
mengeksekusi instruksi lainnya. Jika ada kontak pada garis instruksi setelah
titik cabang, kondisi eksekusi untuk instruksi yang pertama tidak sama dengan
kondisi pada titik cabang sehingga untuk mengeksekusi instruksi berikutnya
menggunakan kondisi eksekusi titik cabang dan kontak lain setelah titik cabang
tersebut.
Jika program
dibuat dalam bentuk diagram ladder, tidak perlu memperhatikan bit TR karena bit
TR hanya relevan pada pemrograman bentuk mneumonik. Terdapat delapan
bit TR, yaitu TR0 sampai dengan TR7 yang dapat digunakan untuk mempertahankan
kondisi eksekusi sementara. Misalkan suatu bit TR ditempatkan pada suatu titik
cabang, kondisi eksekusinya akan disimpan pada bit TR tersebut. Jika kembali ke
titik cabang, bit TR mengembalikan kondisi eksekusi yang telah disimpan.
Penyimpanan kondisi eksekusi pada titik cabang menggunakan bit TR sebagai
operand dari instruksi OUTPUT. Kondisi eksekusi ini kemudian dikembalikan
setelah mengeksekusi instruksi sisi kanan dengan menggunakan bit TR yang sama
sebagai operand dari instruksi LOAD.
6.
Penggunaan Bit Kerja
(Internal Relay
Dalam
pemrograman, mengkombinasikan kondisi untuk menghasilkan kondisi eksekusi
secara langsung sering sangat sulit. Kesulitan ini dapat siatasi dengan mudah
menggunakan bit kerja untuk mentriger instruksi lain secara tidak langsung.
Bit kerja tidak
ditransfer dari atau ke dalam PLC. Semua bit pada daerah IR yang tidak
dialokasikan sebagai bit input/output dan bit pada daerah AR (Auxilary Relay)
dapa digunakan sebagai bit kerja. Bit input/output dan bit yang dialokasikan
untuk keperluan tertentu tidak dapat digunakan sebagai bit kerja.
Jika mengalami
kesulitan pada pemrograman suatu program pengendalian pertimbangan pertama
harus diberikan pada bit kerja untuk menyederhanakan program.
Bit kerja sering
digunakan sebagai operand untuk salah satu instruksi OUTPUT, OUTPUT NOT,
DIFERENTIATE UP, DIFERENTIATE DOWN, dan KEEP, kemudian digunakan sebagai
kondisi yang menentukan bagaimana instruksi lain dieksekusi. Bit kerja juga
dapat digunakan untuk menyederhanakan program saat kombinasi kondisi tertentu
digunakan berulang-ulang. Pada contoh berikut ini IR 0.00, IR 0.01, IR 0.02,
dan IR 0.03 dikombinasikan pada blok logika yang menyimpan kondisi eksekusinya
sebagai status IR 216.00. Kemudian IR 216.00 dikombinasikan dengan kontak lain
untuk menentukan kondisi output untuk IR 200.00 dan IR 200.01.
7.
Instruksi Timer
Instruksi Timer digunakan untuk operasi tunda waktu. Ia memerlukan dua operand yang terletak pada dua baris instruksi, yaitu baris pertama untuk nomor timer dan yug kedua untuk settig waktu (SV = Set Value). Meskipun demikian, instruksi Timer terletak dalam satu alamat.
Nomor Timer dipakai bersama untuk nomor Counter. Nomor Timer/ Counter hanya boleh digunakan sekali. Maksudnya, sekali nomor Timer/ Counter telah digunakan, ia tidak boleh digunakan untuk instruksi Timer/ Counter yang lain. Tetapi, nomor timer sebagai operand suatu kontak dapat digunakan sebanyak yang diperlukan. Banyaknya nomor Timer/ Counter bergantung kepada tipe PLC. Misalnya, PLC OMRON CPM1A, terdapat 128 nomor, yaitu dari 000 sampai dengan 127. tidak diperlukan awalan apapun untuk menyatakan nomor timer. Tetapi, jika nomor timer sebagai operand suatu kontak harus diberi awalan TIM. SV dapat berupa konstanta atau alamat channel/ words. Jika channel daerah IR sebagai unit input dimasukkan sebagai alamat channel, unit input ini harus disambung sedemikian sehingga SV dapat diset dari luar. Timer/ Counter yang disambung dengan cara ini hanya dapat diset dari luar dalam mode MONITOR atau RUN. Semua SV, termasuk yang diset dari luar harus dalam BCD (Binary Coded Decimal), yaitu bilangan desimal yang dikode biner. Penulisan SV harus diawali dengan tanda #. Timer bekerja saat kondisi eksekusinya beralih ke on dan direset (ke SV) saat kondisi eksekusinya beralih ke off. Jika kondisi eksekusi lebh lama daripada SV, completion flag, yaitu tanda yang menunjukkan hitungan waktu telah berakhir, tetap on hingga Timer direset. Timer akan reset jika trletak pada bagian program interlock saat kondisi eksekusi instruksi interlock (IL) off, dan saat terjadi pemutusan daya. Jika dikehendaki timer tidak reset oleh dua keadaan tersebut, maka bit pulsa clock pada daerah SR untuk mencacah Counter yang menghasilkan Timer menggunakan instruksi Counter. SV mempunyai harga antara 0000 sampai dengan 9999 (BCD) dalam satuan deci-detik. Jadi, misalnya menghendaki 10 detik, maka nilai SV harus 100. Jika SV dinyatakan tidak dalam BCD, akan muncul pesan kesalahan.
Instruksi Timer digunakan untuk operasi tunda waktu. Ia memerlukan dua operand yang terletak pada dua baris instruksi, yaitu baris pertama untuk nomor timer dan yug kedua untuk settig waktu (SV = Set Value). Meskipun demikian, instruksi Timer terletak dalam satu alamat.
Nomor Timer dipakai bersama untuk nomor Counter. Nomor Timer/ Counter hanya boleh digunakan sekali. Maksudnya, sekali nomor Timer/ Counter telah digunakan, ia tidak boleh digunakan untuk instruksi Timer/ Counter yang lain. Tetapi, nomor timer sebagai operand suatu kontak dapat digunakan sebanyak yang diperlukan. Banyaknya nomor Timer/ Counter bergantung kepada tipe PLC. Misalnya, PLC OMRON CPM1A, terdapat 128 nomor, yaitu dari 000 sampai dengan 127. tidak diperlukan awalan apapun untuk menyatakan nomor timer. Tetapi, jika nomor timer sebagai operand suatu kontak harus diberi awalan TIM. SV dapat berupa konstanta atau alamat channel/ words. Jika channel daerah IR sebagai unit input dimasukkan sebagai alamat channel, unit input ini harus disambung sedemikian sehingga SV dapat diset dari luar. Timer/ Counter yang disambung dengan cara ini hanya dapat diset dari luar dalam mode MONITOR atau RUN. Semua SV, termasuk yang diset dari luar harus dalam BCD (Binary Coded Decimal), yaitu bilangan desimal yang dikode biner. Penulisan SV harus diawali dengan tanda #. Timer bekerja saat kondisi eksekusinya beralih ke on dan direset (ke SV) saat kondisi eksekusinya beralih ke off. Jika kondisi eksekusi lebh lama daripada SV, completion flag, yaitu tanda yang menunjukkan hitungan waktu telah berakhir, tetap on hingga Timer direset. Timer akan reset jika trletak pada bagian program interlock saat kondisi eksekusi instruksi interlock (IL) off, dan saat terjadi pemutusan daya. Jika dikehendaki timer tidak reset oleh dua keadaan tersebut, maka bit pulsa clock pada daerah SR untuk mencacah Counter yang menghasilkan Timer menggunakan instruksi Counter. SV mempunyai harga antara 0000 sampai dengan 9999 (BCD) dalam satuan deci-detik. Jadi, misalnya menghendaki 10 detik, maka nilai SV harus 100. Jika SV dinyatakan tidak dalam BCD, akan muncul pesan kesalahan.
E.
Peringatan dalam pemrograman
Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya
kesalahan dalam merancang program kendali, perlu diingat hal-hal sebagai
berikut :
a.
Jumlah
kondisi (kontak) yang digunakan seri atau paralel dan juga banyaknya perulangan
penggunaan suatu bit tak terbatas sepanjang kapasitas memori PLC tidak
dilampaui.
b.
Diantara
dua garis instruksi tidak boleh ada kondisi yang melintas secara vertikal.
c.
Tiap
garis instruksi harus memiliki sedikitnya satu kondisi yang menentukan eksekusi instruksi sisi kanan, kecuali untuk
instruksi END(01), ILC(03) dan JME(05).
d.
Dalam
merancang diagram ladder harus memperhatikan kemungkinan instruksi yang
diperlukan untuk memasukannya. Misalnya, pada
gambar A di bawah ini diperlukan instruksi OR LOAD. Hal ini dapat
dihindari dengan menggambar ulang diagram ladder seperti gambar B.
F. Eksekusi program
F. Eksekusi program
Saat
eksekusi program, PLC men-scan program dari atas ke bawah, mengecek semua kondisi,
dan mengeksekusi semua instruksi. Instruksi harus ditempatkan dengan tepat,
misalnya data yang dikehendaki dipindahkan ke words sebelum words tersebut digunakan sebagai operand instruksi. Ingat
bahwa garis instruksi berakhir pd instruksi terminal sisi kanan, setelah itu
baru mengeksekusi garis instruksi bercabang ke instruksi terminal yang lain.Eksekusi
program semata-mata merupakan salah satu tugas yang dilakukan oleh PLC sebagai
bagian dari waktu siklus.
G.
Langkah-langkah pembuatan
program
Untuk membuat program kendali PLC
ditempuh melalui langkah-langkah sistematis sebagi berikut :
a.
Menguraikan
urutan kendali
Pembuatan program diawali dengan penguraian
urutan kendali. Ini dapat dibuat dengan menggunakan kalimat-kalimat logika,
gambar-gambar, diagram waktu, atau bagan alir (flow chart).
b.
Menetapkan
bit operand untuk peralatan input/ output
Bit operand untuk peralatan input/ output mengacu pada daerah memori PLC yang digunakan. Bit operand dapat dipilih secara bebas sejauh berada pada jangkah daerah memori yang dalokasikan. Tetapi, penggunaan secara bebas sering menjadikan ketidak-konsistenan sehingga menjadikan program kendali keliru. Oleh sebab itulah penggunaan bit operand harus ditetapkan sebelum program dibuat. Inventarisir semua peralatan input dan output yang akan disambung ke PLC, kemudian tetapkan bit operandnya
Jumlah bit oprand yang tersedia bergantung kepada tipe PLC yang dispesifikasikan menurut jumlah input-outputnya. Perbandingan jumlah bit input dan output pada umumnya 3 : 2. Misalnya PLC dengan I/O 10 memiliki bit input sejumlah 6 dan bit output 4. Di bawah ini diberikan contoh daerah memori PLC OMRON CPM1A-10CDRA.
Bit operand untuk peralatan input/ output mengacu pada daerah memori PLC yang digunakan. Bit operand dapat dipilih secara bebas sejauh berada pada jangkah daerah memori yang dalokasikan. Tetapi, penggunaan secara bebas sering menjadikan ketidak-konsistenan sehingga menjadikan program kendali keliru. Oleh sebab itulah penggunaan bit operand harus ditetapkan sebelum program dibuat. Inventarisir semua peralatan input dan output yang akan disambung ke PLC, kemudian tetapkan bit operandnya
Jumlah bit oprand yang tersedia bergantung kepada tipe PLC yang dispesifikasikan menurut jumlah input-outputnya. Perbandingan jumlah bit input dan output pada umumnya 3 : 2. Misalnya PLC dengan I/O 10 memiliki bit input sejumlah 6 dan bit output 4. Di bawah ini diberikan contoh daerah memori PLC OMRON CPM1A-10CDRA.
Daerah Data
|
Words
|
Bit
|
|
IR
(Internal Relay)
|
Input
|
0
|
0.00 – 0.11
|
Output
|
10
|
10.00 – 10.07
|
|
Kerja
(internal)
|
200 – 231
|
200.00 – 231.15
|
|
TR
(Temporarilly Relay)
|
TR0 – TR7
|
||
Timer/counter
|
TC0 – TC7
|
||
c.
Membuat
program kendali
Program kendali PLC dapat dibuat
dengan diagram ladder atau kode mneumonik. Pemilihan tipe program sesuai dengan
jenis alat pemrogram yang akan digunakan untuk memasukkan program ke dalam PLC.
Jika diguinakan komputer pilihlah diagram ladder dan jika digunakan konsol
pemrogram gunakan kode mneumonik.
H.
Program
Kendali Motor
Terdapat
berbagai macam operasi motor induksi, suatu motor yang paling banyak digunakan
sebagai penggerak mesin industri. Tetapi, hanya ada beberapa prinsip operasi
motor induksi yaitu :
>
Operasi motor satu arah putaran
>
Operasi motor dua arah putaran
>
Operasi motor dua kecepatan
>
Operasi motor start bintang segitiga
>
Operasi beberapa motor kendali kerja berurutan
1.
Program
Kendali Motor Satu arah Putaran
a.
Urutan Kendali Motor
Jika tombol
Start ditekan, motor berputar searah jarum jam, dan jika kemudian tombol Start
dilepaskan, motor tetap berputar dalam arah yang sama. Jika tombol
Stop ditekan, motor berhenti berputar.
b.
Penetapan Bit I/O
No
|
Alat
input/output
|
Bit
operand
|
Fungsi
|
1
|
Tombol Stop
|
0.00
|
Menghentikan operasi motor
|
2
|
Tombol
Start
|
0.01
|
Menjalankan motor
|
3
|
Kontaktor2)
|
10.00
|
Menghubungkan motor ke jaringan
|
Keterangan :
1) Kecuali untuk operasi yang sangat khusus,
secara umum operasi menjalankan motor adalah dengan menekan tombol Start dan
jika kemudian tombol ini dilepas motor akan tetap berputar. Maka, selanjutnya
untuk menjalankan motor cukup disebutkan dengan menekan tombol Start saja.
2) Motor berdaya kecil dapat disambung
langsung ke PLC. Tetapi, untuk motor berdaya cukup dengan arus nominal diatas
kemampuan PLC harus menggunakan kontaktor sebagai penghubung motor ke jaringan.
2.
Program
Kendali Motor Dua Arah Putaran
a.
Urutan Kendali Motor
Jika tombol
Forward (FWD) ditekan, motor berputar searah jarum jam dan jika yang ditekan
tombol Reverse (REV), motor berputar berlawanan arah jarum jam. Tombol STOP
digunakan untuk menghentikan operasi motor setia saat.
b.
Penetapan Bit I/O
No
|
Alat
input/output
|
Bit
operand
|
Fungsi
|
1
|
Tombol Stop
|
0.00
|
Menghentikan operasi motor
|
2
|
Tombol
Fwd
|
0.01
|
Menjalankan motor searah jarum jam
|
3
|
Tombol
Rev
|
0.02
|
Menjalankan motor berlawanan arh jarum jam
|
4
|
Kontaktor K1
|
10.00
|
Kontaktor putaran searah jarum jam
|
5
|
Kontaktor K2
|
10.01
|
Kontaktor putaran berlawanan arh jarum jam
|
3.
Program
Kendali Motor Dua Kecepatan
a.
Urutan Kendali Motor
Jika tombol LOW ditekan, motor berputar dalam kecepatan rendah, dan jika kemudian tombol High ditekan motor berputar dalam kecepatan tinggi. Motor tidak dapat distart langsung pada kecepatan tinggi dan pada kecepatan tinggi motor tidak dapat dipindahkan ke kecepatan rendah. Tombol Stop untuk menghentikan operasi motor.
Jika tombol LOW ditekan, motor berputar dalam kecepatan rendah, dan jika kemudian tombol High ditekan motor berputar dalam kecepatan tinggi. Motor tidak dapat distart langsung pada kecepatan tinggi dan pada kecepatan tinggi motor tidak dapat dipindahkan ke kecepatan rendah. Tombol Stop untuk menghentikan operasi motor.
b.
Penetapan Bit I/O
No
|
Alat
input/output
|
Bit
operand
|
Fungsi
|
1
|
Tombol Stop
|
0.00
|
Menghentikan operasi motor
|
2
|
Tombol Low Speed
|
0.01
|
Menjalankan motor kecepatan rendah
|
3
|
Tombol High Speed
|
0.02
|
Menjalankan motor kecepatan tinggi
|
4
|
Kontaktor K1
|
10.00
|
Kontaktor kecepatan rendah
|
5
|
Kontaktor K2
|
10.01
|
Kontaktor kecepatan tinggi
|
6
|
Kontaktor K3
|
10.00
|
Kontaktor kecepatan tinggi
|
4.
Program
Kendali Motor Sistem Start Bintang Segitiga
a.
Urutan Kendali Motor
Jika
tombol Start ditekan, motor berputar dalam sambungan bintang. Lima detik
kemudian, motor berputar dalam sambungan segitiga. Tombol Stop untuk
menghentikan operasi motor setiap saat.
b.
Penetapan Bit I/O
No
|
Alat
input/output
|
Bit
operand
|
Fungsi
|
1
|
Tombol Stop
|
0.00
|
Menghentikan operasi motor
|
2
|
Tombol
Start
|
0.01
|
Menjalankan motor
|
3
|
Kontaktor K1
|
10.00
|
Kontaktor utama
|
4
|
Kontaktor K2
|
10.01
|
Kontaktor bintang
|
5
|
Kontaktor K3
|
10.02
|
Kontaktor segitiga
|
Rangkuman
1. Program kendali PLC terdiri atas tiga unsur yaitu alamat, instruksi dan operand.
2. Program PLC dapat dibuat dengan diagram ladder atau kode mneumonik. Pemilihan tipe program ditentukan oleh alat pemrogram yang akan digunakan.
3. Untuk dapat membuat program kendali PLC, pemrogram harus memahami struktur daerah memori PLC yang akan digunakan. Daerah memori PLC berbeda-beda sesuai dengan tipe PLC.
4. Memahami instruksi pemrograman memegang peranan paling penting dalam pembuatan program kendali. Terdeapat banyak sekali instruksi pemrograman, tetapi tidak semua instruksi dapat duterapkan pada semua tipe PLC.
5. Setiap program selalu diawali dengan instruksi LOAD dan diakhiri dengan instruksi END. Tanpa instruksi END program tidak dapat dieksekusi.
6. Program dieksekusi dengan menscan mulai dari alamat terendah hingga ke alamat tertinggi yaitu instruksi END. Pada diagram ladder ini berarti program dikesekusi mulai dari atas ke bawah bila garis instruksi bercabang, dan kemudian ke kanan hingga mengeksekusi instruksi sisi kanan.
7. Pembuatan program PLC harus dilakukan secara sistematis, yaitu mendeskripsikan sistem kendali, menetapkan operand untuk alat input/ output, baru membuat program.
1. Program kendali PLC terdiri atas tiga unsur yaitu alamat, instruksi dan operand.
2. Program PLC dapat dibuat dengan diagram ladder atau kode mneumonik. Pemilihan tipe program ditentukan oleh alat pemrogram yang akan digunakan.
3. Untuk dapat membuat program kendali PLC, pemrogram harus memahami struktur daerah memori PLC yang akan digunakan. Daerah memori PLC berbeda-beda sesuai dengan tipe PLC.
4. Memahami instruksi pemrograman memegang peranan paling penting dalam pembuatan program kendali. Terdeapat banyak sekali instruksi pemrograman, tetapi tidak semua instruksi dapat duterapkan pada semua tipe PLC.
5. Setiap program selalu diawali dengan instruksi LOAD dan diakhiri dengan instruksi END. Tanpa instruksi END program tidak dapat dieksekusi.
6. Program dieksekusi dengan menscan mulai dari alamat terendah hingga ke alamat tertinggi yaitu instruksi END. Pada diagram ladder ini berarti program dikesekusi mulai dari atas ke bawah bila garis instruksi bercabang, dan kemudian ke kanan hingga mengeksekusi instruksi sisi kanan.
7. Pembuatan program PLC harus dilakukan secara sistematis, yaitu mendeskripsikan sistem kendali, menetapkan operand untuk alat input/ output, baru membuat program.
8.
Banyak
sekali variasi program kendali motor sebagai penggerak mesin. Tetapi, untuk
operasi motor induksi, suatu motor yang paling banyak digunakan sebagai
penggerak mesin, secara prinsip hanya ada beberapa operasi motor yaitu operasi
motor satu arah putaran, operasi dua arah putaran, operasi dua kecepatan,
operasi dengan start bintang segitiga, operasi berurutan dan operasi
bergantian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar